
Ratih Sang di KJD
“Pagi hari saat perutku kenyang menyantap sarapan, terlihat seorang pengemis duduk di sudut ruangan. Ah..Kasihan. Pastilah ia belum makan. Uang di kantungku saat itu berjumlah Rp.10.000, aku akan memberikan Rp 3.000 untuknya sarapan. Tiba-tiba muncul keraguan dalam diriku…uangku nanti sisa Rp 7.000, cukup untuk ongkos pulang, namun aku ingin membeli jajanan. Kupikir Rp 2.000 pun cukuplah untuk membeli sarapan, tidak harus yang komplit dan enak bukan? Ketika mendekat dan akan memberinya 2 lembar uang ribuan, aku kembali berpikir..akan ada banyak orang yang juga akan memberinya uang. Misalkan saja ada 6 orang yang akan memberikan masing-masing Rp 3.000. Berarti ia akan mendapatkan Rp18.000. Jumlah yang cukup besar. Ah..kalau begitu aku akan memberinya Rp 500 saja, ucap hatiku sambil mengeluarkan sekeping uang logam kecil dari kantungku”
Apakah kalian pernah mengalami hal seperti cerita di atas? Ragu untuk memberi… padahal kita tidak sadar bahwa Prof. Dr. Syeitan tengah merayu kita secara ‘halus’. Seandainya kita memberikan Rp 3.000 dengan Ikhlas, sesungguhnya itulah uang kita yang sebenarnya, uang yang akan menjadi Tabungan di Akhirat nanti. Ya… cerita di atas terlontar dari mulut cantik mantan Peragawati yang pernah berkarir di Amerika, Ratih Sang. Ia mengisahkan tentang godaan Syeitan yang menggoda seseorang dalam berbuat kebaikan dengan ikhlas. Ya, berlaku Ikhlas memang sulit, karena ada beberapa tingkatan menuju ikhlas. Apakah Ikhlas sama dengan Rela ? Tidak, Rela merupakan tingkatan awal dari Ikhlas. Dan kita perlu meningkatkan Iman dan Takwa untuk mencapai keikhlasan. Jadi Ikhlas adalah melakukan kebaikan dengan hanya mengharap Ridho Sang Pencipta.
Di sela perbincangannya, terlihat air mata menetes di pipi Mbak Ratih, para volunteer dan juga ibu-ibu yang hadir. Beberapa Ibu menanggapi perbincangan tersebut dengan berbagai pertanyaan. Mbak Ratih pun menjawabnya dan juga memberikan salah satu bukunya yang berjudul “IKHLAS, Oleh-oleh Ratih Sang”. Mbak Ratih pun sempat membahas beberapa kisah dari 13 kisah di dalam bukunya. Ternyata ada salah satu kisah yang diambil dari pengalamannya pada 1 April 2007, saat ia mengajarkan cara berkerudung cantik di Kandank Jurank Doank (saat itu KJD masih berada di pinggir Rel Kereta Api).
Alhamdulillah, KJD sekarang sudah jauh berkembang dibandingkan saat pertama kali Mbak Ratih ke KJD tahun lalu. Saat ini Mbah Ratih tidak lagi mengajarkan Ibu-ibu di pinggir sawah yang sering terganggu dengan suara Kereta Api yang melintas, tetapi di sebuah tempat yang lebih layak, tempat yang kini sedang direnovasi untuk kemudian akan dijadikan sebuah cafe yang akan melengkapi fasilitas di Kandank Jurank Doank.
Di akhir acara Mbak Ratih memberikan ‘bonus’ dengan mempraktikkan cara menggunakan kerudung cantik dengan dibantu oleh Mbak Nova sang asisten. Adzan Dzuhur pun berkumandang. Acara pun berakhir, tak lupa Ibu-ibu bergantian mengabadikan momen tersebut dengan foto bersama.
Terima Kasih Mbak Ratih atas pelajaran IKHLAS nya yang sangat berharga bagi kami. Semoga di hari ulang tahunmu esok yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Mbak Ratih diberikan kenikmatan dalam berkurban, dan semoga Allah selalu mencurahkan RahmatNya pada Mbak Ratih sekeluarga dan juga pada keluarga besar Kandank Jurank Doank. Amien

Gremlins on dvd Timeline ipod